Bisa jadi kedua mempelai yang menunggu detik-detik memadu kasih. Meski lelah menderanya namun tetap mampu tersenyum hingga tamu terakhirpun. Berbulan bahkan hitungan tahun sudah mereka menunggu hari bahagia ini. Mungkin orang tua si gadis yang baru saja menuntaskan kewajiban terakhirnya dengan mendapatkan lelaki yang akan menggantikan perannya membimbing putrinya untuk langkah selanjutnya setelah hari pernikahan. Atau bahkan ibu pengantin pria yang terlihat terus menerus sumringah, ia membayangkan akan segera menimang cucu dari putranya. “Aih, pasti segagah kakeknya,” impinya.
Para tamu yang hadir dalam pesta tersebut tak luput terjangkiti aura kebahagiaan, itu nampak dari senyum, canda, dan keceriaan yang tak hentinya sepanjang mereka berada di pesta. Bagi sanak saudara dan kerabat orang tua kedua mempelai, bisa jadi momentum ini dijadikan ajang silaturahim, kalau perlu rapat keluarga besar pun bisa berlangsung di sela-sela pesta. Sementara teman dan sahabat kedua mempelai menyulap pesta pernikahan itu menjadi reuni yang tak direncanakan. Mungkin kalau sengaja diundang untuk acara reuni tidak ada yang hadir, jadilah reuni satu angkatan berlangsung. Dan satu lagi, bagi mereka yang jarang-jarang menikmati makanan bergizi plus, inilah saatnya perbaikan gizi walau bermodal uang sekadarnya di amplop yang tertutup rapat.
Nyaris tidak ada hadirin yang terlihat sedih atau menangis di pesta itu kecuali a ir mata kebahagiaan. Kalau pun ada, mungkin mereka yang sakit hati pria pujaannya tidak menikah dengannya. Atau para pria yang sakit hati lantaran primadona kampungnya dipersunting pria dari luar kampung. Namun tetap saja tak terlihat di pesta itu, mungkin mereka meratap di balik dinding kamarnya sambil memeluk erat gambar pria yang baru saja menikah itu. Dan pria-pria sakit hati itu hanya bisa menggerutu dan menyimpan kecewanya dalam hati ketika harus menyalami dan memberi selamat kepada wanita yang harus mereka relakan menjadi milik pria lain.
Apa benar-benar tidak ada yang bersedih di pesta itu? Semula saya mengira yang paling bersedih hanya tukang pembawa piring kotor yang pernah saya ketahui hanya mendapat upah sepuluh ribu rupiah plus sepiring makan gratis untuk ratusan piring yang ia angkat. Sepuluh ribu rupiah yang diterima setelah semua tamu pulang itu, sungguh tak cukup mengeringkan peluhnya. Sedih, pasti.
Tak lama kemudian saya benar-benar mendapati orang yang lebih bersedih di pesta itu. Mereka memang tak terlihat ada di pesta, juga tak mengenakan pakaian bagus lengkap dengan dandanan yang tak biasa dari keseharian di hari istimewa itu. Mereka hanya ada di bagian belakang dari gedung tempat pesta berlangsung, atau bagian tersembunyi dengan terpal yang menghalangi aktivitas mereka di rumah si empunya pesta. Mereka lah para pencuci piring bekas makan para tamu terhormat di ruang pesta.
Bukan, mereka bukan sedih lantaran mendapat bayaran yang tak jauh berbeda dengan pembawa piring kotor. Mereka juga tidak sedih hanya karena harus belakangan mendapat jatah makan, itu sudah mereka sadari sejak awal mengambil peran sebagai pencuci piring. Juga bukan karena tak sempat memberikan doa selamat dan keberkahan untuk pasangan pengantin yang berbahagia, meski apa yang mereka kerjakan mungkin lebih bernilai dari doa-doa para tamu yang hadir.
Air mata mereka keluar setiap kali memandangi nasi yang harus terbuang teramat banyak, juga potongan daging atau makanan lain yang tak habis disantap para tamu. Tak tertahankan sedih mereka saat membayangkan tumpukan makanan sisa itu dan memasukkannya dalam karung untuk kemudian singgah di tempat sampah, sementara anak-anak mereka di rumah sering harus menahan lapar hingga terlelap.
Andai para tamu itu tak mengambil makanan di luar batas kemampuannya menyantap, andai mereka yang berpakaian bagus di pesta itu tak taati nafsunya untuk mengambil semua yang tersedia padahal tak semua bisa masuk dalam perut mereka, mungkin akan ada sisa makanan untuk anak-anak di panti anak yatim tak jauh dari tempat pesta itu. Andai pula mereka mengerti buruknya berbuat mubazir, mungkin ratusan anak yatim dan kaum fakir bisa terundang untuk ikut menikmati hidangan dalam pesta itu.
Sekadar usul untuk Anda yang akan melaksanakan pesta pernikahan, tidak cukup kalimat “Mohon Doa Restu” dan “Selamat Menikmati” yang tertera di dinding pesta, tapi sertakan juga tulisan yang cukup besar “Terima Kasih untuk Tidak Mubazir”.
Mungkinkah?
Selasa, 15 Desember 2009
Selasa, 24 November 2009
Pada Wan Anwar
Pagi ini, aku menerima sms dari rekan di Banten: Inna lillahi wainana ilaihi roji'un. Telah berpulang ke rahmatullah penyair berbakat Wan Anwar, S.Pd, M.Hum.Belumlah selesai aku membalas sms rekan tersebut, air mata mengalir dengan derasnya. Bukan aku sempat mendapat bimbingan seorang penyair yang hebat ketika menjadi mahasiswa di Universitas Tirtayasa Banten, atau bukan aku memiliki buku karya sang penyair yang demikian rendah hati mau memberikan tanda tangannya di buku yang sempat aku beli, atau bukan karena aku selalu diajaknya untuk menulis/berkarya dan berkarya di Banten Selatan. Dimana pada saat itu aku menjadi seorang guru di SMA Negeri 1 Bayah.
Ada sesuatu yang mengikat sangat erat antara aku dengan sang Penyair, tapi aku tak dapat mengungkapkan dengan jelas. Aku kehilangan amat sangat, sama seperti waktu Penyair WS Rendra menghadap-Nya, sama juga ketika aku mendengar Hamid Jabbar terhempas di Podiumnya. Aku tak bisa apa-apa, hanya sepotong do'a yang dapat aku perbuat untuk menghantarkan sang Penyair menghadap Sang Pemilik.berjalanlah lurus ke utara, di melintasi rimbun asam
dan masa silam, kau akan tahu darat dan laut
seperti bibir sepasang kekasih saling memagut
seperti maut yang tiap waktu terus beringsut
pulau-pulau kecil, tempat burung-burung hijrah
dari musim ke musim, gemetar di kejauhan
sisa bakau merunduk muram, kawanan ikan mengenangkan pertemuan
seperti penduduk yang dihantam gelombang daratan
berlayarlah dengan perahu kayu, menyisiri utara
mengendus panu para nelayan, kau akan bertemu kenyataan
sisa ikan busuk, ceceran solar, muatan kayu dari seberang
daki dan kapal inspeksi yang asing berputar-putar sendirian
berjalanlah terus ke utara, menyapa sunyi yang beranak di tambak
membayangkan pelabuhan kenangan masa silam
2005
***
2005
***
jika timur itu hari depan, mengapa laju kereta kembali ke masa silam
bahwa stasiun ini peninggalan residen, tentu saja kami tahu
juga deret pohon asam, irigasi, dan gedung-gedung pemerintahan
begitulah, bukankah tuan-tuan hanya sanggup membangun mall
jurang antara cahaya lampu kristal dan temaram perkampungan
kami hamba tuan-tuan, sudah lama bosan dalam penantian
tuan-tuan mengobral janji, mengganggu tidur dan mimpi kami
maka kini izinkan kami bertanya, peti-peti yang siang malam diangkut kereta
milik siapa? kemilau lampu di jalan raya untuk siapa!
kami tahu tuan-tuan tak akan menjawab, karena tuan-tuan
sedang meluncur ke masa silam, jadi izinkan kami mendakwa
kami tak tahan lagi mendengar dan menyaksikan mulut tuan-tuan
berbusa, nganga, dan amat hina
2005
***
2005
***
aku datang
tetapi dari mana aku datang
aku pergi
tetapi kemana aku pergi
kau sambut aku dengan kasidah
tempat berdiam segala kisah
kupersembahkan padamu denting kecapi
tempat sunyi menggali diri
dua tanda dua nama
dua tanda dua nama
bertemu dalam nestapa
karena aku telah datang
kauterima cinta di ujung pedang
karena kau telah menjemputku
terima hatimu semurni maut
dua tanda dua nama
bertemu dalam nestapa
jika kau dan aku adalah rumah
rumah siapakah kita
jika kau dan aku jadi penghuni
siapakah yang akan kita hadapi
2005
2005
Jumat, 09 Oktober 2009
Pelajaran dari Ramlan Korban Gempa Sumbar

Ramlan kini hanya punya satu kaki. Ketika terjadi gempa, kaki kanannya remuk setelah tertimpa beton. Tak ada yang berhasil menolong Ramlan untuk keluar dari jepitan beton saat itu, hingga akhirnya dia terpaksa menggergaji sendiri kaki kanannya agar bisa dikeluarkan dari gedung.
Ramlan, Menggergaji kakinya untuk bisa lolos dari beton yang menghimpitnya saat gempa.
Ketika gempa terjadi 30 September lalu, Ramlan sedang berada di lantai VII Gedung Tel komsel, Jl Khatib Sulaiman, Padang. Pemuda 18 tahun tersebut sudah sebulan tinggal di Padang. Dia bekerja sebagai pekerja bangunan di gedung itu.
Saat gempa terjadi, Ramlan berusaha menyelamatkan diri. Namun naas, ketika sedang berlari, kaki kanannya tertimpa beton berukuran 4 x 4 meter dan diperkirakan beratnya mencapai 6 ton.
”Waktu gempa itu, saya berada jauh dari kawan-kawan. Ketika hendak menyelamatkan diri, tiba-tiba kaki saya ditimpa beton yang sangat berat,” ungkapnya. Beton tersebut menimpa bagian bawah betis Ramlan. Seketika itu dia berusaha meminta tolong teman-temannya yang satu pekerjaan. Teriakan Ramlan tersebut tidak digubris teman-temannya yang juga sedang melarikan diri ke lantai bawah.
Dalam pikiran Ramlan saat itu, dia harus sesegera mungkin menyelamatkan diri. Padahal, dia tak bisa ke mana-mana karena kaki kanannya penuh darah dan remuk terjepit beton.
Setengah jam kemudian, teman-teman Ramlan datang menolong. Mereka berenam berusaha mengangkat beton tersebut. Namun gagal. Akhirnya, Ramlan meminta kepada temannya untuk memotong saja kaki kanannya tersebut agar dirinya bisa dike luarkan dari jepitan beton. Tapi, permintaan Ramlan tak bisa dilakukan teman-temannya.
Melihat beratnya beban yang mengimpit serta sudah remuknya tulang kakinya, Ramlan akhirnya memberanikan diri untuk menggergaji kakinya sendiri. ” Dalam keadaan merintih kesakitan, Ramlan menggergaji kakinya.
Akhirnya teman-temannya bersedia membantu. Setelah kaki terpotong, dalam kondisi darah segar yang mengucur dan hampir pingsan, Ramlan dilarikan ke RS Selasih. Karena rumah sakit itu juga ambruk, Ramlan kemudian dibawa ke RS dr M. Djamil dan baru dirawat di RS Yos Sudarso.
Ada suatu keberanian dan sikap yang jelas dari diri seorang Ramlan, untuk memutuskan sesuatu secara cepat. Jika saja tak dilakukan menggergaji kakinya mungkin ia selamat atau mungkin juga dia akan tewas akibat kekurangan darah dalam menunggu pertolongan.
Jika saja ia menggergaji kaki ia pun akan tewas karena menahan sakit dan pendarahan yang hebat akibat nekatnya, atau dia akan segera keluar dari kemungkinan tertimpa runtuhan bangunan dan segera mendapat pertolongan setelah memotong kakinya sendiri.
Yang menjadikan permasalahan sekarang adakah yang tergerak hatinya untuk memenuhi permintaan yang amat sederhana dari seorang Ramlan: Kaki Palsu.
Pelajaran yang sangat dahsyat dari seorang pemuda Purwakarta, untuk sebuah kehidupan mempertaruhkan segalanya dengan tanpa keraguan.
Bagaimana dengan kita yang selama ini selalu mempermainkan kehidupan orang lain untuk kepentingan sesaat?
Terimakasih Ramlan! Semoga Allah SWT akan memberikan kepada Anda kaki yang lebih baik untuk mencapai derajat yang mulia di hadapan-Nya. Amin.
Sabtu, 19 September 2009
ADA APA SETELAH RAMADHAN ?
Ramadhan sebentar lagi pergi meninggalkan kita..Bulan yang penuh dengan berbagai macam kebaikan..Semoga Allah menerima amal kebaikan kita dan menjadikan kita istiqamah sampai berjumpa denganNya, amien..Entah, kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan atau tidak?..Wallahu A’lam.
Namun, walaupun Ramadhan telah pergi akan tetapi amal seorang mukmin tidak terputus begitu saja sehingga datang padanya kematian. Allah Ta'ala berfirman: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. Al-Hijr: 99).
Apabila puasa Ramadhan telah meninggalkan kita maka ibadah puasa yang lain tetap disyari’atkan sepanjang tahun: Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhu meriwayatkan, bahwsanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Barang siapa puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari pada bulan Syawal, maka hal itu laksana puasa setahun. (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata: Kekasihku Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara: Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua raka’at dan supaya aku shalat witir sebelum tidur. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Qatadah Radhiallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam pernah ditanya tentang puasa Arafah, lalu beliau Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam menjawab: Menghapus dosa tahun lalu dan tahun mendatang. (HR. Muslim).
Dari Abu Qatadah Radhiallahu Anhu , bahwasanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam ditanya tentang puasa pada hari Asyura, lalu beliau Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam menjawab: Menghapus dosa tahun lalu. (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu , dari Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Amalan-amalan dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka apabila dihadapkan amalanku ketika aku sedang puasa. (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih), dll.
Apabila Qiyam Ramadhan (Tarawih) telah meninggalkan kita maka ibadah Qiyamullail (shalat malam) tetap disyari’atkan setiap malam.
Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam shalat malam sampai bengkak kakinya. Lalu akupun bertanya kepada beliau: Mengapa engkau lakukan ini -wahai Rasulullah- padahal telah diampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang Beliau menjawab: Apakah tidak sepatutnya aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur! (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu , bahwasanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Rabb kita tabaraka wa ta’ala- turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia (Allah) berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan doanya! Siapa yang meminta kepadaKu, Aku beri permintaannya! Siapa yang memohon ampunan kepadaKu, pasti Aku ampuni dia! (HR. Bukhari dan Muslim).
Masih banyak amal-amal kebaikan lainnya yang bisa kita kerjakan sepanjang tahun. Allah yang kita sembah pada bulan Ramadhan adalah juga Allah yang kita sembah pada bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya.
Hendaklah kita kembali bersemangat untuk mengerjakan ketaatan-ketaatan dan menjauhi dosa-dosa dan keburukan-keburukan agar kita mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat.
Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita dan menjadikan kita semua istiqamah sampai berjumpa dengan-Nya, amien.
Namun, walaupun Ramadhan telah pergi akan tetapi amal seorang mukmin tidak terputus begitu saja sehingga datang padanya kematian. Allah Ta'ala berfirman: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. Al-Hijr: 99).
Apabila puasa Ramadhan telah meninggalkan kita maka ibadah puasa yang lain tetap disyari’atkan sepanjang tahun: Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhu meriwayatkan, bahwsanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Barang siapa puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari pada bulan Syawal, maka hal itu laksana puasa setahun. (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata: Kekasihku Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara: Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua raka’at dan supaya aku shalat witir sebelum tidur. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Qatadah Radhiallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam pernah ditanya tentang puasa Arafah, lalu beliau Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam menjawab: Menghapus dosa tahun lalu dan tahun mendatang. (HR. Muslim).
Dari Abu Qatadah Radhiallahu Anhu , bahwasanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam ditanya tentang puasa pada hari Asyura, lalu beliau Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam menjawab: Menghapus dosa tahun lalu. (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu , dari Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Amalan-amalan dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka apabila dihadapkan amalanku ketika aku sedang puasa. (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih), dll.
Apabila Qiyam Ramadhan (Tarawih) telah meninggalkan kita maka ibadah Qiyamullail (shalat malam) tetap disyari’atkan setiap malam.
Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Bahwasanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam shalat malam sampai bengkak kakinya. Lalu akupun bertanya kepada beliau: Mengapa engkau lakukan ini -wahai Rasulullah- padahal telah diampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang Beliau menjawab: Apakah tidak sepatutnya aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur! (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu , bahwasanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Rabb kita tabaraka wa ta’ala- turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia (Allah) berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan doanya! Siapa yang meminta kepadaKu, Aku beri permintaannya! Siapa yang memohon ampunan kepadaKu, pasti Aku ampuni dia! (HR. Bukhari dan Muslim).
Masih banyak amal-amal kebaikan lainnya yang bisa kita kerjakan sepanjang tahun. Allah yang kita sembah pada bulan Ramadhan adalah juga Allah yang kita sembah pada bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya.
Hendaklah kita kembali bersemangat untuk mengerjakan ketaatan-ketaatan dan menjauhi dosa-dosa dan keburukan-keburukan agar kita mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat.
Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita dan menjadikan kita semua istiqamah sampai berjumpa dengan-Nya, amien.
Meraih Takwa Dengan Puasa
Diantara tujuan puasa adalah agar seseorang mencapai tingkatan takwa sebagaimana firman Allah Ta'aala: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183). Orang yang bertakwa adalah orang yang mengerjakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.
Orang yang berpuasa diperintahkan unruk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan sebagaimana sabda Nabi –Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya serta kebodohan, Allah tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya (puasanya)." (HR. Bukhari).
Orang yang berpuasa apabila terlintas dalam dirinya keinginan untuk berbuat kemaksiatan, ia segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia-pun segera menghindari kemaksiatan tersebut.
Orang yang sedang berpuasa tidak akan membalas kebodohan dengan kebodohan dan caci maki dengan caci maki, ia sadar bahwa orang yang berpuasa harus sanggup menguasai diri dan emosinya.
Pada akhirnya apabila seseorang berpuasa sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah –Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam, pasti ia menjadi orang yang bertakwa dan mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat.
Orang yang berpuasa diperintahkan unruk mengerjakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan sebagaimana sabda Nabi –Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya serta kebodohan, Allah tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya (puasanya)." (HR. Bukhari).
Orang yang berpuasa apabila terlintas dalam dirinya keinginan untuk berbuat kemaksiatan, ia segera tersadar bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia-pun segera menghindari kemaksiatan tersebut.
Orang yang sedang berpuasa tidak akan membalas kebodohan dengan kebodohan dan caci maki dengan caci maki, ia sadar bahwa orang yang berpuasa harus sanggup menguasai diri dan emosinya.
Pada akhirnya apabila seseorang berpuasa sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah –Shallallaahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam, pasti ia menjadi orang yang bertakwa dan mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat.
Dengan Puasa Hati Jernih Untuk Berpikir dan Berdzikir
Diantara hikmah puasa adalah agar supaya hati kita jernih untuk berpikir dan berdzikir karena banyak makan minum serta memuaskan syahwat menyebabkan kelalaian dan adakalanya hati menjadi keras dan buta dari kebenaran. Karenanya, Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda: "Tidaklah seseorang anak adam itu memenuhi suatu bejana yang lebih jelek dari pada perut. Cukuplah bagi seseorang makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika terpaksa harus menambahnya, hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya." (HR. Imam Ahmad dll).
Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam -Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.
Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.
Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani –Rahumahullah: "Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya."
Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Karena nafsu ini pula Adam -Alaihis Salam dikeluarkan dari surga. Dari nafsu perut pula muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda, dan akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.
Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.
Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani –Rahumahullah: "Sesungguhnya jiwa apabila lapar dan haus menjadi jernih dan lembut hatinya dan apabila kenyang menjadi buta hatinya."
Minggu, 19 Juli 2009
SEJAUH MANA KESIAPAN WARGA MENGHADAPI BENCANA

Ketika korban-korban pengeboman di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton dikeluarkan dari nereka di kedua hotel tersebut, mereka dalam keadan luka-luka dan (lihat Presdir Holcim Timothy Mckay) merintih kesakitan. Mereka memasuki neraka baru yaitu mereka diterlantarkan di halaman hotel. 
Ini salah siapa? mengapa ini sampai terjadi di negeri yang sangat peduli terhadap kemanusian.

Ketika terjadi bencana bukankah waktu (detik-detik pertama), dan apa yang kita lakukan (bagaimana kita memberikan pertolongan) dalam pertolongan pertama itu akan menentukan bagaimana nasib dari korban tersebut. Waktu dan tindakan awal dalam melakukan pertolongan selalu menjadi prioritas utama untuk keselamatan sang korban.

Kita melihat dalam kejadian kemarin di kedua hotel tersebut, kita saksikan kita demikian terpaku dengan kejadian, kita berbondong-bondong hanya untuk melihat (dalam keadaan sesungguhnya kita bukan hanya terpaku tetapi sesungguhnya kita adalah penghambat pertolongan pertama). Kita hanya simpati dengan kejadian tersebut, tapi kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kejadian tersebut.
Sesungguhnya kita dapat melakukan pertolongan pertama dengan tepat dan cepat, jika saja kita memiliki keterampilan dalam menghadapi bencana. Keterampilan menghadapi bencana di tanah air ini, belumlah menjadi suatu kebutuhan! Sesungguhnya kita ini sangat akrab dengan bencana!
Entah kapan kita menjadi orang-orang yang siap menghadapi bencana? Ataukah kita mengharapkan bantuan dari luar untuk menghadapi bencana yang ada? Ataukah kita mengharapkan banyaknya korban, sehingga akan banyak bantuan.
Sungguh-sungguh terlalu kalau kita berfikiran bencana adalah proyek.
Seluruh warga negara Indonesia harus dibekali dengan keterampilan yang standar dalam menghadapi bencana-bencana. Bukankah bangsa ini, alamnya sangat memungkinkan untuk terjadinya bencana; tsunami, gunung meletus, longsor, sungai yang meluap, jalan raya, angkutan laut, angkutan udara dan sebagainya. Bahkan di rumah tangga musibah atau bencana ini sangatlah akrab dengan kita.

Kita tidak dapat menunggu pertolongan pertama dari pihak-pihak yang terkait. Kita harus siap memberikan pertolongan yang cepat dan tepat. Kita tidak dapat melihat kejadian seperti kemarin, dimana korban pengeboman menunggu dan menunggu, sehingga pertolongan menjadi terlambat. Pengalaman ini sudah sangat pahit untuk diterima, karena kita tidak siap memberikan pertolongan.

Ini salah siapa? mengapa ini sampai terjadi di negeri yang sangat peduli terhadap kemanusian.

Ketika terjadi bencana bukankah waktu (detik-detik pertama), dan apa yang kita lakukan (bagaimana kita memberikan pertolongan) dalam pertolongan pertama itu akan menentukan bagaimana nasib dari korban tersebut. Waktu dan tindakan awal dalam melakukan pertolongan selalu menjadi prioritas utama untuk keselamatan sang korban.

Kita melihat dalam kejadian kemarin di kedua hotel tersebut, kita saksikan kita demikian terpaku dengan kejadian, kita berbondong-bondong hanya untuk melihat (dalam keadaan sesungguhnya kita bukan hanya terpaku tetapi sesungguhnya kita adalah penghambat pertolongan pertama). Kita hanya simpati dengan kejadian tersebut, tapi kita tidak dapat berbuat apa-apa terhadap kejadian tersebut.
Sesungguhnya kita dapat melakukan pertolongan pertama dengan tepat dan cepat, jika saja kita memiliki keterampilan dalam menghadapi bencana. Keterampilan menghadapi bencana di tanah air ini, belumlah menjadi suatu kebutuhan! Sesungguhnya kita ini sangat akrab dengan bencana!
Entah kapan kita menjadi orang-orang yang siap menghadapi bencana? Ataukah kita mengharapkan bantuan dari luar untuk menghadapi bencana yang ada? Ataukah kita mengharapkan banyaknya korban, sehingga akan banyak bantuan.
Sungguh-sungguh terlalu kalau kita berfikiran bencana adalah proyek.
Seluruh warga negara Indonesia harus dibekali dengan keterampilan yang standar dalam menghadapi bencana-bencana. Bukankah bangsa ini, alamnya sangat memungkinkan untuk terjadinya bencana; tsunami, gunung meletus, longsor, sungai yang meluap, jalan raya, angkutan laut, angkutan udara dan sebagainya. Bahkan di rumah tangga musibah atau bencana ini sangatlah akrab dengan kita.

Kita tidak dapat menunggu pertolongan pertama dari pihak-pihak yang terkait. Kita harus siap memberikan pertolongan yang cepat dan tepat. Kita tidak dapat melihat kejadian seperti kemarin, dimana korban pengeboman menunggu dan menunggu, sehingga pertolongan menjadi terlambat. Pengalaman ini sudah sangat pahit untuk diterima, karena kita tidak siap memberikan pertolongan.

Selasa, 07 Juli 2009
GURU HARUS "DIPAKSA"
Tuntutan zaman mengharuskan seorang guru harus “DIPAKSA” berbenah diri dan berlomba dengan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya untuk siswanya sehingga siswa akan berlomba juga dalam memacu dirinya untuk mendapatkan pengetahuan yang maksimal seperti gurunya yang telah memberikan pelayanan padanya.
Seorang ibu guru MUSLIMAH dalam Laskar Pelangi mampu memberikan inovasi dan mimpi-mimpi yang indah bagi setiap siswanya. Siswanya dapat bermimpi dan meraih mimpinya dengan kenyataan. Sungguh sangat luar biasa apa yang dilakukan oleh seorang ibu guru muda (kala itu) ini.
Tetapi bagaimana inovasi-inovasi yang dilakukannya dalam proses pembelajaran. Ini berbeda dengan pandangan kebanyakan orang, bahwa guru gajinya rendah dan sulit jadi orang kaya. Bahkan tidak sedikit profesi guru yang jadi bahan tertawaan, seperti di sinetron-sinetron.
Ibu Muslimah dalam Laskar Pelangi layak untuk dimasukkan dalam daftar nominasi guru yang bersertifikasi. Karena Ibu Muslimah telah melaksanakan inovasi dalam pembelajaran sekalipun dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang tersedia. Jadi mulai sekarang guru jangan dianalogkan lagi dengan si “Umar Bakri” karena sebutan ini tidak cocok untuk sebutan guru yang mengemban tugas mulia. Lihatlah prestasi mereka, cara mengajar mereka, cara mendidik dan membimbing para siswa, jangan semata-mata hanya dilihat dari “bututnya”.
Ini artinya bahwa sertifikasi itu orientasinya jangan sekedar materi/gaji tetapi prestasi. Mengapa demikian? Jika seseorang itu berprestasi secara tidak langsung materi akan mengikutinya. Jadi kalau bicara sertifikasi jangan bicara dulu tentang uang, tetapi sejauh mana kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh. Kenapa para penulis yang peduli pendidikan di Indonesia ini tidak mengangkat tokoh-tokoh riil pendidikan kita seperti Ki Hajar Dewantara, R.A Kartini, Ibu Muslimah dsb.Kalau mau memberi argumen mengenai sertifikasi dan guru pakai dong figur/tokoh yang riil. Angkatlah mereka, tulislah mereka yang punya segudang prestasi dan pengalaman, supaya orang tahu bagaimanakah sosok guru yang sejati.Renungkanlah, apa sebabnya Jepang bisa tumbuh menjadi salah satu negeri terkemuka di dunia? Ketika saat itu Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom oleh sekutu pada 1945, sampai luluh lantak, Kaisar Hirohito bertanya, “Masih ada berapa guru yang hidup?” Kaisar Jepang ini jelas memiliki kesadaran yang tinggi bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Buktinya Human Development Index Jepang pada tahun 2008 berada di peringkat 8 dunia.
Melihat wajah pendidikan nasional di Indonesia, tampaknya kita harus banyak belajar dari kegigihan Jepang dalam memperjuangkan pendidikan dan menghargai sosok guru. Oleh karena itu untuk memperbaiki image guru dan guru menjadi idola angkatlah prestasinya, inovasinya, dan profesionalismenya.
Sehubungan dengan hal di atas, sertifikasi bukan semata-mata merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada guru, tetapi memang betul-betul bagi guru yang berprestasi. Amati dan teliti berkas-berkas portofolionya, mereka punya segudang pengalaman dan prestasi yang dirintis sekian puluh tahun sehingga mereka memang layak untuk bersertifikasi. Kalau ada beberapa yang melakukan manipulasi toh akhirnya akan ketahuan juga.
Supaya guru tidak di-Umar Bakri-kan yang sial dan menjadi kambing hitam atas keterpurukan bangsa ini maka guru harus mengubah mind-set. Jangan hanya minta gaji bagus, tapi tak mau meningkatkan diri. Jangan kita berlaku curang, tidak adil, menjadikan negara dan sekolah sebagai tunggangan. Kita mentolerir kemalasan, tidak mau membaca, tidak memperluas horizon, memberikan anak-anak ala kadarnya.Kunci kualitas itu pada guru. Bukan hanya sertifikasi yang sifatnya administratif, tetapi substansi mutu guru. Jika dikaji lebih jauh, profesionalisme selalu menyangkut 3 hal, yaitu: etik, skill, dan renumerasi yang baik. Kalau guru segitu-gitu saja, dan tidak mampu memperbaiki diri, INI DOSA BESAR. Guru yang berpandangan luas, banyak membaca, bijaksana, akan mampu memotivasi anak dan melahirkan anak-anak hebat di masa depan.
Banyak hal yang perlu dibangkitkan bagi siswa!. Sebelum masuk kelas dan mengajar, guru harus sudah baca koran. Pikirannya terbuka, perspektif luas. Menyampaikan bahwa kita ini bagian dari dunia yang luas. Bicara mengenai problematika perubahan iklim, krisis ekonomi, kemiskinan, kepadatan penduduk, teknologi, akan terjadi dan apa akibatnya bagi bumi ini.Coba lihat, sawah-sawah telah berubah jadi perumahan, gedung-gedung megah bersambungan dengan rumah-rumah kumuh, kebut-kebutan di jalan umum, tidak ada sopan-santun, inikah bangsa kita, inikah peradaban kita?
Guru-guru idealis dan profesional, jumlahnya harus diperbanyak. Pendidikan kita sudah pada jalur yang tepat, tapi perlu akselerasi dalam peningkatan dan pemerataan kualitas dan internasionalisasi. Profesionalisme tidak hanya sekedar untuk profesionalisme saja, atau agar kualitas pengajaran semakin bagus. Profesionalisme juga untuk membangun citra, persepsi, juga gengsi.
Sementara itu, sekarang ini profesi guru masih kurang diminati, jauh dibanding profesi akuntan, ahli teknik, atau dokter. Padahal sejarah telah membuktikan, bangsa yang hebat saat ini karena pendidikannya baik, dan didukung oleh guru-guru dengan profesionalisme tinggi, kesadaran, etos kerja, dan idealisme untuk mengembangkan diri.
Seorang ibu guru MUSLIMAH dalam Laskar Pelangi mampu memberikan inovasi dan mimpi-mimpi yang indah bagi setiap siswanya. Siswanya dapat bermimpi dan meraih mimpinya dengan kenyataan. Sungguh sangat luar biasa apa yang dilakukan oleh seorang ibu guru muda (kala itu) ini.
Tetapi bagaimana inovasi-inovasi yang dilakukannya dalam proses pembelajaran. Ini berbeda dengan pandangan kebanyakan orang, bahwa guru gajinya rendah dan sulit jadi orang kaya. Bahkan tidak sedikit profesi guru yang jadi bahan tertawaan, seperti di sinetron-sinetron.
Ibu Muslimah dalam Laskar Pelangi layak untuk dimasukkan dalam daftar nominasi guru yang bersertifikasi. Karena Ibu Muslimah telah melaksanakan inovasi dalam pembelajaran sekalipun dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang tersedia. Jadi mulai sekarang guru jangan dianalogkan lagi dengan si “Umar Bakri” karena sebutan ini tidak cocok untuk sebutan guru yang mengemban tugas mulia. Lihatlah prestasi mereka, cara mengajar mereka, cara mendidik dan membimbing para siswa, jangan semata-mata hanya dilihat dari “bututnya”.
Ini artinya bahwa sertifikasi itu orientasinya jangan sekedar materi/gaji tetapi prestasi. Mengapa demikian? Jika seseorang itu berprestasi secara tidak langsung materi akan mengikutinya. Jadi kalau bicara sertifikasi jangan bicara dulu tentang uang, tetapi sejauh mana kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh. Kenapa para penulis yang peduli pendidikan di Indonesia ini tidak mengangkat tokoh-tokoh riil pendidikan kita seperti Ki Hajar Dewantara, R.A Kartini, Ibu Muslimah dsb.Kalau mau memberi argumen mengenai sertifikasi dan guru pakai dong figur/tokoh yang riil. Angkatlah mereka, tulislah mereka yang punya segudang prestasi dan pengalaman, supaya orang tahu bagaimanakah sosok guru yang sejati.Renungkanlah, apa sebabnya Jepang bisa tumbuh menjadi salah satu negeri terkemuka di dunia? Ketika saat itu Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom oleh sekutu pada 1945, sampai luluh lantak, Kaisar Hirohito bertanya, “Masih ada berapa guru yang hidup?” Kaisar Jepang ini jelas memiliki kesadaran yang tinggi bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa. Buktinya Human Development Index Jepang pada tahun 2008 berada di peringkat 8 dunia.
Melihat wajah pendidikan nasional di Indonesia, tampaknya kita harus banyak belajar dari kegigihan Jepang dalam memperjuangkan pendidikan dan menghargai sosok guru. Oleh karena itu untuk memperbaiki image guru dan guru menjadi idola angkatlah prestasinya, inovasinya, dan profesionalismenya.
Sehubungan dengan hal di atas, sertifikasi bukan semata-mata merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada guru, tetapi memang betul-betul bagi guru yang berprestasi. Amati dan teliti berkas-berkas portofolionya, mereka punya segudang pengalaman dan prestasi yang dirintis sekian puluh tahun sehingga mereka memang layak untuk bersertifikasi. Kalau ada beberapa yang melakukan manipulasi toh akhirnya akan ketahuan juga.
Supaya guru tidak di-Umar Bakri-kan yang sial dan menjadi kambing hitam atas keterpurukan bangsa ini maka guru harus mengubah mind-set. Jangan hanya minta gaji bagus, tapi tak mau meningkatkan diri. Jangan kita berlaku curang, tidak adil, menjadikan negara dan sekolah sebagai tunggangan. Kita mentolerir kemalasan, tidak mau membaca, tidak memperluas horizon, memberikan anak-anak ala kadarnya.Kunci kualitas itu pada guru. Bukan hanya sertifikasi yang sifatnya administratif, tetapi substansi mutu guru. Jika dikaji lebih jauh, profesionalisme selalu menyangkut 3 hal, yaitu: etik, skill, dan renumerasi yang baik. Kalau guru segitu-gitu saja, dan tidak mampu memperbaiki diri, INI DOSA BESAR. Guru yang berpandangan luas, banyak membaca, bijaksana, akan mampu memotivasi anak dan melahirkan anak-anak hebat di masa depan.
Banyak hal yang perlu dibangkitkan bagi siswa!. Sebelum masuk kelas dan mengajar, guru harus sudah baca koran. Pikirannya terbuka, perspektif luas. Menyampaikan bahwa kita ini bagian dari dunia yang luas. Bicara mengenai problematika perubahan iklim, krisis ekonomi, kemiskinan, kepadatan penduduk, teknologi, akan terjadi dan apa akibatnya bagi bumi ini.Coba lihat, sawah-sawah telah berubah jadi perumahan, gedung-gedung megah bersambungan dengan rumah-rumah kumuh, kebut-kebutan di jalan umum, tidak ada sopan-santun, inikah bangsa kita, inikah peradaban kita?
Guru-guru idealis dan profesional, jumlahnya harus diperbanyak. Pendidikan kita sudah pada jalur yang tepat, tapi perlu akselerasi dalam peningkatan dan pemerataan kualitas dan internasionalisasi. Profesionalisme tidak hanya sekedar untuk profesionalisme saja, atau agar kualitas pengajaran semakin bagus. Profesionalisme juga untuk membangun citra, persepsi, juga gengsi.
Sementara itu, sekarang ini profesi guru masih kurang diminati, jauh dibanding profesi akuntan, ahli teknik, atau dokter. Padahal sejarah telah membuktikan, bangsa yang hebat saat ini karena pendidikannya baik, dan didukung oleh guru-guru dengan profesionalisme tinggi, kesadaran, etos kerja, dan idealisme untuk mengembangkan diri.
SEKOLAH STANDAR NASIONAL KEKURANGAN SISWA
Ini adalah sebuah tragedi, ketika Pemerintah menetapkan sebuah sekolah menjadi sekolah rintisan standar nasional ditinggalkan masyarakat. Bukankah SSN menjadi impian setiap (calon siswa)/siswa untuk duduk dan menimba ilmu di sekolah tersebut. Sekolah Standar Nasional adalah sebuah impian bagi siswa karena sekolah tersebut telah memenuhi kriteria yang cukup bahkan sangat sulit untuk didapat dari sekolah-sekolah di negeri ini. Sekolah standar nasional telah memiliki perangkat/sarana pembelajaran yang telah memadai.
Ketika musim pendaftaran siswa baru, maka sekolah-sekolah favorit tentunya termasuk sekolah sekolah yang telah mendapatkan predikat SNN akan diserbu oleh calon siswa. Ketika penutupan pendaftaran maka akan terlihat banyak siswa-siswa yang harus ditolak, tentunya disebabkan oleh kapasitas yang tersedia (bangku) di sekolah tersebut terbatas. Siswa-siswa (calon) yang ditolak tersebut akan mencari sekolah-sekolah lain di bawah sekolah tersebut untuk dimasukinya.
Apa yang akan dikatakan dunia ketika sekolah favorit tersebut (termasuk sekolah standar nasional) tersebut pada waktu penutupan masa pendaftaran siswa baru ternyata siswanya masih di bawah kapasitas yang diinginkan sekolah tersebut. Sekolah tersebut terpaksa memperpanjang masa pendaftaran, hanya untuk memenuhi target siswa masuk sekolah tersebut. Ada pertanyaan besar terhadap sekolah tersebut? Ada apa? Mengapa siswa sampai tak berburu ke sekolah tersebut?
Adakah yang salah di sekolah tersebut? Sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk mendapatkan jawabannya. Kalau saja kita tak jujur melihat hal tersebut. Siapa yang harus dipersalahkan gurunyakah; kepala sekolah atau pemerintah yang terlalu gegabah meningkatkan predikat sekolah tersebut.
Guru-guru di sekolah tersebut yang tak menerima peningkatan predikat sekolahnya (menganggap kenaikan predikat menjadi beban). Sehingga membuat guru-guru menjadi stres? Atau tidak siap untuk memacu dirinya mengikuti tuntutan dari kenaikan predikat tersebut. Atau ada rasa apatis yang sangat dalam terhadap keadaan sekolah tersebut.
Ataukah karena kepala sekolah, yang terlalu cepat berlari sehingga guru-gurunya tertinggal jauh. Ketertinggalan inilah yang menyebabkan guru-guru merasa stres. Ataukah ada yang lainnya?
Mungkin juga, pemerintah terlalu tergesa-gesa memaksakan sebuah sekolah mendapatkan predikat standar nasional. Suatu sekolah sesungguhnya belum siap untuk menjadi SSN, karena sarana yang harus disiapkan menajdi beban bagi guru, kepala sekolah dan seluruh personil yang ada di sekolah tersebut.
Atau mungkin juga, karena kita terlalu menikmati keadaan selama ini yang tidak memiliki tantangan atau beban yang harus diterima.
Mari kita jawab sebuah pertanyaan sederhana ini: Mengapa Sekolah Standar Nasional masih kekurangan siswa?
Ketika musim pendaftaran siswa baru, maka sekolah-sekolah favorit tentunya termasuk sekolah sekolah yang telah mendapatkan predikat SNN akan diserbu oleh calon siswa. Ketika penutupan pendaftaran maka akan terlihat banyak siswa-siswa yang harus ditolak, tentunya disebabkan oleh kapasitas yang tersedia (bangku) di sekolah tersebut terbatas. Siswa-siswa (calon) yang ditolak tersebut akan mencari sekolah-sekolah lain di bawah sekolah tersebut untuk dimasukinya.
Apa yang akan dikatakan dunia ketika sekolah favorit tersebut (termasuk sekolah standar nasional) tersebut pada waktu penutupan masa pendaftaran siswa baru ternyata siswanya masih di bawah kapasitas yang diinginkan sekolah tersebut. Sekolah tersebut terpaksa memperpanjang masa pendaftaran, hanya untuk memenuhi target siswa masuk sekolah tersebut. Ada pertanyaan besar terhadap sekolah tersebut? Ada apa? Mengapa siswa sampai tak berburu ke sekolah tersebut?
Adakah yang salah di sekolah tersebut? Sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk mendapatkan jawabannya. Kalau saja kita tak jujur melihat hal tersebut. Siapa yang harus dipersalahkan gurunyakah; kepala sekolah atau pemerintah yang terlalu gegabah meningkatkan predikat sekolah tersebut.
Guru-guru di sekolah tersebut yang tak menerima peningkatan predikat sekolahnya (menganggap kenaikan predikat menjadi beban). Sehingga membuat guru-guru menjadi stres? Atau tidak siap untuk memacu dirinya mengikuti tuntutan dari kenaikan predikat tersebut. Atau ada rasa apatis yang sangat dalam terhadap keadaan sekolah tersebut.
Ataukah karena kepala sekolah, yang terlalu cepat berlari sehingga guru-gurunya tertinggal jauh. Ketertinggalan inilah yang menyebabkan guru-guru merasa stres. Ataukah ada yang lainnya?
Mungkin juga, pemerintah terlalu tergesa-gesa memaksakan sebuah sekolah mendapatkan predikat standar nasional. Suatu sekolah sesungguhnya belum siap untuk menjadi SSN, karena sarana yang harus disiapkan menajdi beban bagi guru, kepala sekolah dan seluruh personil yang ada di sekolah tersebut.
Atau mungkin juga, karena kita terlalu menikmati keadaan selama ini yang tidak memiliki tantangan atau beban yang harus diterima.
Mari kita jawab sebuah pertanyaan sederhana ini: Mengapa Sekolah Standar Nasional masih kekurangan siswa?
Rabu, 27 Mei 2009
JAWA BARAT PERINGKAT UTAMA !!!!!!!??????

Berita dari TV pagi ini, diwarnai dengan laporan bahwa Jawa Barat menduduki peringkat utama dalam kemaksiatan, ini ditandai dengan bahwa penderita HIV/AIDS di Jawa Barat adalah tertinggi di Republik ini. Untuk dinyatakan sebagai penderita HIV/AIDS haruslah melalui beberapa langkah telah mengalami penyimpangan/penyalahgunaan, antara lain: Kemungkinan penyalah gunaaan narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik, ataupun telah melakukan hubungan seksual secara bergantian (bukan pasangan tetap) artinya angka pesangan tidak setiapun banyaaak terjadi di tanah Parahyangan ini.

Adapula yang menjadi korban dari orang-orang yang berprilaku menyimpang, ini adalah suatu tragedi kembali. Mereka harus menderita HIV/AIDS dari orang yang terdekat mereka sendiri yang mempunyai kecenderungan untuk berprilaku menyimpang tersebut. Mereka tak tahu apa-apa tapi ditularkan oleh pasangannya sendiri.
Kabupaten Cianjur yang terkenal dengan Gerbang Marhamah, rasa-rasanya kalau masyarakat menggunakan Gerbang Marhamah sebagai pondasi dalam berprilaku, Insya Allah bencana tersebut tidak akan ada. Tetapi kalau kita sempat jalan-jalan ke arah Puncak/Cipanas, Bulu kuduk rasanya berdiri, betapa jauhnya antara harapan dan kenyataan dari Gerbang Marhamah tersebut.
Aku sebagai salah seorang tenaga kependidikan di tanah ini, merasakan betapa sangat memilukan dengan berita ini, adakah yang salah? Berapa persenkan bencana ini disebabkan oleh proses pendidikan yang salah? Mungkin dalam proses pendidikan yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang menjadi sumbangan terbesar dari kejadian ini? Berapa persenkah tanggung jawab ini harus aku pikul.
Aku memiliki anak-anak, yang yang menjadi tanggung jawabku, untuk dapat mengantarkan mereka jauh dari bencana ini. Aku betul-betul
harus mengantarkan mereka untuk dapat memilih kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik untuk dunianya dan baik pula untuk akhiratnya kelak.
Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk dapat mengantarkan anak-anakku yang merupakan titipan-Mu untuk dapat meraih kehidupan yang baik dan dalam ridho-Mu. Amin.
Aku sebagai salah seorang tenaga kependidikan di tanah ini, merasakan betapa sangat memilukan dengan berita ini, adakah yang salah? Berapa persenkan bencana ini disebabkan oleh proses pendidikan yang salah? Mungkin dalam proses pendidikan yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah yang menjadi sumbangan terbesar dari kejadian ini? Berapa persenkah tanggung jawab ini harus aku pikul.Aku memiliki anak-anak, yang yang menjadi tanggung jawabku, untuk dapat mengantarkan mereka jauh dari bencana ini. Aku betul-betul
harus mengantarkan mereka untuk dapat memilih kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik untuk dunianya dan baik pula untuk akhiratnya kelak.Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk dapat mengantarkan anak-anakku yang merupakan titipan-Mu untuk dapat meraih kehidupan yang baik dan dalam ridho-Mu. Amin.
Senin, 18 Mei 2009
IN MATTERS OF PRINCIPLE STANDS LIKE A ROCK, IN MATTERS OF TASTE SWIM
Aku adalah salah satu orang yang mendapatkan suatu pelajaran mengenai sebuah kehormatan dan harga diri dari sebuah perjalanan: Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah eorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan". Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab: "Tidak dik saya sudah kenyang".Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang di rumah". Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 2000,- dari dompet dan iaberikan sebagai sedekah saja. "Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik". Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain. "Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?. Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu di rumah, ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis". Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja dihadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang. Suatu pantangan bagi ibunya, bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang. Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan", ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.
Kerja bukanlah masalah uang semata, namun lebih mendalam mempunyai sesuatu arti bagi hidup kita. Kadang mata kita menjadi "hijau" melihat uang, sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yang kita miliki.
Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya suatu profesi, namun yang lebih penting adalah etos kerja, dalam arti penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu memberikan rasa bangga di dalam diri, maka itu akan memberikan arti besar.
Kerja bukanlah masalah uang semata, namun lebih mendalam mempunyai sesuatu arti bagi hidup kita. Kadang mata kita menjadi "hijau" melihat uang, sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yang kita miliki.
Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya suatu profesi, namun yang lebih penting adalah etos kerja, dalam arti penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu memberikan rasa bangga di dalam diri, maka itu akan memberikan arti besar.
Selasa, 05 Mei 2009
SIAPA AKU?
Adalah pertanyaan yang sangat pendek, tapi sangat sulit untuk menjawabnya!
Aku adalah seorang laki-laki yang dilahirkan oleh seorang ibu, hampir 48 tahun yang lalu. Ini berdasarkan data akte kelahiranku, ijazah, ktp dan segala surat menyurat mengenai diriku. Semua itu belum bisa menjawab siapa aku?
Ibuku yang melahirkan aku, sampai hari ini belumlah pernah sekalipun dapat aku buat menjadi senang sebagai ucapan terima kasihku atas perjuangan melahirkan anak yang kembar bersamaan diriku.
Aku menjadi seorang murid dari beratus-ratus guru yang membesarkanku sampai hari belumlah ada kesempatan untuk mengucapkan terimakasihku, yang ada hanya lintasan kekesalan dan kemarahan yang tak terucap karena kebandelan dan keisengan yang aku lakukan.
Ketika aku menjadi seorang guru di Banten, pada tahun 1988 hingga tahun 2004. Kurun waktu yang sangat panjang yang seharusnya dapat aku lakukan untuk menorehkan bagi sebuah kehidupan untuk masyarakat Bayah - Banten.
Entah apalagi yang telah aku perbuat, untuk melengkapi betapa aku belumlah mengenal siapa aku ini? Tak ada tapak yang jelas, aku tinggalkan sebagai seorang guru di tanah Banten. Tak ada yang berarti bagi masyarakat Banten yang merindukan jejak yang jelas untuk menghadapi kehidupannya yang aku lakukan.
Semenjak 2004, aku di tanah Cianjur, aku meragukan apa yang dapat aku perbuat sebagai perwujudan dari “siapa aku?” Tak ada yang jelas, semua yang ada remuk, retak bahkan tak berbentuk.
Aku seorang guru, yang sampai hari ini tak begitu jelas apa yang telah aku lakukan. Mencerdaskan kehidupan anak bangsa? Aku pun meragukan, jangan-jangan apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang sia-sia, bahkan mungkin membuat pembodohan anak bangsa?
Siapa yang dapat membantu aku? Aku ingin dan rindu mencari dan mengenal diriku sendiri!
Aku adalah seorang laki-laki yang dilahirkan oleh seorang ibu, hampir 48 tahun yang lalu. Ini berdasarkan data akte kelahiranku, ijazah, ktp dan segala surat menyurat mengenai diriku. Semua itu belum bisa menjawab siapa aku?
Ibuku yang melahirkan aku, sampai hari ini belumlah pernah sekalipun dapat aku buat menjadi senang sebagai ucapan terima kasihku atas perjuangan melahirkan anak yang kembar bersamaan diriku.
Aku menjadi seorang murid dari beratus-ratus guru yang membesarkanku sampai hari belumlah ada kesempatan untuk mengucapkan terimakasihku, yang ada hanya lintasan kekesalan dan kemarahan yang tak terucap karena kebandelan dan keisengan yang aku lakukan.
Ketika aku menjadi seorang guru di Banten, pada tahun 1988 hingga tahun 2004. Kurun waktu yang sangat panjang yang seharusnya dapat aku lakukan untuk menorehkan bagi sebuah kehidupan untuk masyarakat Bayah - Banten.
Entah apalagi yang telah aku perbuat, untuk melengkapi betapa aku belumlah mengenal siapa aku ini? Tak ada tapak yang jelas, aku tinggalkan sebagai seorang guru di tanah Banten. Tak ada yang berarti bagi masyarakat Banten yang merindukan jejak yang jelas untuk menghadapi kehidupannya yang aku lakukan.
Semenjak 2004, aku di tanah Cianjur, aku meragukan apa yang dapat aku perbuat sebagai perwujudan dari “siapa aku?” Tak ada yang jelas, semua yang ada remuk, retak bahkan tak berbentuk.
Aku seorang guru, yang sampai hari ini tak begitu jelas apa yang telah aku lakukan. Mencerdaskan kehidupan anak bangsa? Aku pun meragukan, jangan-jangan apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang sia-sia, bahkan mungkin membuat pembodohan anak bangsa?
Siapa yang dapat membantu aku? Aku ingin dan rindu mencari dan mengenal diriku sendiri!
Senin, 04 Mei 2009
KESUKSESAN TAK TERBATAS
Pagi Senin 4 Mei 2009, dalam kegiatan pelaksanaan Ujian Sekolah bagi siswa kelas 12, aku mendapatkan pencerahan yang sangat luar biasa, hal ini bukan karena aku dapatkan dari seorang yang besar tapi dari seorang yang sangat luar biasa. Beliau adalah seorang biasa tapi sangat luar biasa: Bpk Jatnika Permadi, S.Pd. Beliau adalah penderita gagal ginjal, belasan kali beliau menjalani operasi, berapa kali harus masuk rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Serta jangan ditanya berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh beliau untuk mempertahankan kehidupan.
Satu yang sangat menyentak aku adalah ketika beliau menyatakan bahwa apa yang dilakukan di rumah sakit adalah hanya salah satu upaya yang dilakukan walaupun itu tidak banyak menolong. Yang menolong hanyalah Allah SWT, karena secara medis bahwa beliau seharusnya selalu bergantung dengan alat yang bernama Hemodialisma (alat cuci darah).
Semata-mata kekuasaan-Nya lah beliau tidak selalu harus cuci darah.
Beliau sempat menceritakan rahasia sukses yang dilakukannya, antara lain:
Harus mengenal diri :
Siapa Aku?
Kenali potensi dan ekstensi diri kita?
Sejauh mana manfaat diri kita bagi orang lain sekitar kita?
Sudahkah mempersiapkan diri ketika Tuhan bertanya waktu kita kembali kepada-Nya?
Satu yang sangat menyentak aku adalah ketika beliau menyatakan bahwa apa yang dilakukan di rumah sakit adalah hanya salah satu upaya yang dilakukan walaupun itu tidak banyak menolong. Yang menolong hanyalah Allah SWT, karena secara medis bahwa beliau seharusnya selalu bergantung dengan alat yang bernama Hemodialisma (alat cuci darah).
Semata-mata kekuasaan-Nya lah beliau tidak selalu harus cuci darah.
Beliau sempat menceritakan rahasia sukses yang dilakukannya, antara lain:
Harus mengenal diri :
Siapa Aku?
Kenali potensi dan ekstensi diri kita?
Sejauh mana manfaat diri kita bagi orang lain sekitar kita?
Sudahkah mempersiapkan diri ketika Tuhan bertanya waktu kita kembali kepada-Nya?
Minggu, 03 Mei 2009
GODAAN JIN DAN MANUSIA
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS, 114 : 4 dan 5)
Manusia banyak yang tahan terhadap godaan yang dibisikkan oleh syetan. contoh untuk menerima uang sogokkan yang diberikan oleh seseorang untuk kelancarannya, manusia mampu untuk menolaknya, puasa pada bulan ramadhan banyak manusia yang mampu untuk melaksanakannya, walaupun semua itu dilakukan bukan tanpa godaan. Kita mampu mampu untuk sabar ketika kita dicpba oleh Allah dalam bentuk kesulitan dan penderitaan. Dan sebagainya. Segala bentuk godaan yang datangnya dari makhluk Allah SWT yang berbentuk jin manusia dapat menghindar dan menolaknya.
Tetapi ketika godaan tersebut yang datangnya dari syetan yang berbentuk dan bernama manusia banyaklah manusia yang tak mampu untuk menghindarnya. Contoh ketika manusia diajak untuk berselingkuh banyaklah manusia tidak dapat menolak dan menghindarkan dirinya untuk tidak terjerumus pada kemaksiatan ini. Begitu pula jika seseorang mendapatkan kecaman dan hinaan dari orang lain maka orang tersebut bukan hanya bereaksi pada saat itu saja, bahkan sepanjang waktu segala potensi dirinya, pikiran yang ada pada dirinya bahkan tenaga yang dimilikinya hanya untuk membalas dan mengatur strateginya untuk menghancur diri orang yang telah melakukan pengecaman dan hinaan tersebut.
Yang menjadi persoalan ketika seseorang yang telah mencurahkan waktu, pikiran dan tenaganya untuk seseorang berarti dia telah menduakan Tuhannya. INI ADALAH BENTUK KEMUSRIKAN YANG NYATA DAN TAK PERNAH TERSADARI DARI SEORANG MANUSIA.
Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS, 114 : 4 dan 5)
Manusia banyak yang tahan terhadap godaan yang dibisikkan oleh syetan. contoh untuk menerima uang sogokkan yang diberikan oleh seseorang untuk kelancarannya, manusia mampu untuk menolaknya, puasa pada bulan ramadhan banyak manusia yang mampu untuk melaksanakannya, walaupun semua itu dilakukan bukan tanpa godaan. Kita mampu mampu untuk sabar ketika kita dicpba oleh Allah dalam bentuk kesulitan dan penderitaan. Dan sebagainya. Segala bentuk godaan yang datangnya dari makhluk Allah SWT yang berbentuk jin manusia dapat menghindar dan menolaknya.
Tetapi ketika godaan tersebut yang datangnya dari syetan yang berbentuk dan bernama manusia banyaklah manusia yang tak mampu untuk menghindarnya. Contoh ketika manusia diajak untuk berselingkuh banyaklah manusia tidak dapat menolak dan menghindarkan dirinya untuk tidak terjerumus pada kemaksiatan ini. Begitu pula jika seseorang mendapatkan kecaman dan hinaan dari orang lain maka orang tersebut bukan hanya bereaksi pada saat itu saja, bahkan sepanjang waktu segala potensi dirinya, pikiran yang ada pada dirinya bahkan tenaga yang dimilikinya hanya untuk membalas dan mengatur strateginya untuk menghancur diri orang yang telah melakukan pengecaman dan hinaan tersebut.
Yang menjadi persoalan ketika seseorang yang telah mencurahkan waktu, pikiran dan tenaganya untuk seseorang berarti dia telah menduakan Tuhannya. INI ADALAH BENTUK KEMUSRIKAN YANG NYATA DAN TAK PERNAH TERSADARI DARI SEORANG MANUSIA.
Jumat, 17 April 2009
Ujian Nasional, Nasional yang Diuji
Habis sudah hajat nasional untuk melaksanakan Pemilu, kini hajat bangsa ini adalah mengadakan hajat baru kembali untuk dunia penddidikan yaitu ujian nasional untuk tingkat SMA dan SMK. Ujian Nasional ini adalah bertujuan untuk mengukur dan menaikkan kemampuan rata-rata pelajar kedua sekolah tersebut. Entah berapa biaya yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia untuk hal ini.
Yang menjadi persoalan adalah mampukan biaya yang sangat besar ini dapat mengangkat peringkat bangsa ini dalam mutu pendidikannya? Sangat terlalu banyak persoalan yang berada di dunia pendidikan. Luas daerah dan penyebaran manusia yang tidak merata serta segudang PR yang membebani dunia pendidikan yang belum terselesaikan.
Pemerintah Indonesia di masa reformasi ini mudah-mudahan perhatian pemerintah terhadap pendidikan pun mengalami reformasi pula. sehingga pendidikan tidak mendapatkan perhatian sebelah mata saja, atau pendidikan tidak jadi objek main mata. Pendidikan dan kesehatan masyarakat harus mendapatkan perhatian yang utama agar masa depan bangsa ini dapat menjadi lebih baik.
Yang menjadi persoalan adalah mampukan biaya yang sangat besar ini dapat mengangkat peringkat bangsa ini dalam mutu pendidikannya? Sangat terlalu banyak persoalan yang berada di dunia pendidikan. Luas daerah dan penyebaran manusia yang tidak merata serta segudang PR yang membebani dunia pendidikan yang belum terselesaikan.
Pemerintah Indonesia di masa reformasi ini mudah-mudahan perhatian pemerintah terhadap pendidikan pun mengalami reformasi pula. sehingga pendidikan tidak mendapatkan perhatian sebelah mata saja, atau pendidikan tidak jadi objek main mata. Pendidikan dan kesehatan masyarakat harus mendapatkan perhatian yang utama agar masa depan bangsa ini dapat menjadi lebih baik.
Kartini kartini Kini
Pagi ini, sangat miris melihat berita telivisi. Banyak laporan dari berbagai penjuru Indonesia, kaum Kartini yang mencoba, dan mengakhiri hidupnya akibat berbagai kesulitan kehidupan. Jika saja Kartini, ya... ibu Kartini. Yang menjadi kebanggaan dari bangsa ini melihat Kartini-Kartini sekarang apakah sebangga bangsa ini yang membanggakan dirinya, ataukah dia akan menangis, merintih melihat apa yang telah dilakukannya tidak mendapatkan pengakuaan dari mereka yang telah mengakhiri kehidupannya.
Wahai ibu kita Kartini, ......
Wahai ibu kita Kartini .......
dan
Wahai, Kartini Kartini kini.....
Wahai ibu kita Kartini, ......
Wahai ibu kita Kartini .......
dan
Wahai, Kartini Kartini kini.....
Rabu, 15 April 2009
Sisa Sisi Lain Pemilu
Hingar bingar Pesta Pemilu berakhirlah sudah, yang tersisa kini hanyalah kekecewaan, amarah ketika tidak terpilih, pesta kemenangan bagi yang mendapatkan kemenangan. Kekecewaan dan amarah menjadi satu untuk mereka yang tidak terpilih adalah sangat wajar karena harapan dan kenyataan yang menjauh, sementara untuk mendaftar dan membiayai kegiatan kampanye sangat besar. Mungkin dana yang dipergunakan sampai menjual barang yang dimulikinya, bukan mustahil juga mereka terlibat hutang kampanye. Untuk melampiaskan kemarahan dan kekecewaan mereka bisa teriak sekencang-kencang di tengah laut, atau bisa juga di puncak gunung. Atau hal-hal lain untuk melepaskan nyeri di dada. Kalau beban yang ada di dada tak dikurangi bukan mustahil beban yang ada di dada tersebut akan meledak sehingga tak mampu lagi ditahan, ini menjadikan stress, gila dan mungkin juga jalan pintas yang dilakukan untuk mengakhiri kekecewaan dan kemarahan tersebut. Sementara yang mendapatkan kepercayaan tampil menjadi anggota dewan terhormat untuk sesaat dapat bergembira, karena kepercayaan adalah amanah. Sedangkan amanah adalah sebuah pertanggungjawaban, beban yang sangat besar yang ada dipundak. Dunia dan akhirat nanti menunggu pertanggungjawaban.
Yang menjadi perhatian dari sisa kampanye adalah betapa miskinnya partai dan caleg yang mengikuti kampanye? Hal ini dapat dilihat dari laporan dana kampanye partai dan caleg yang dilansir oleh panitia pemilu, semuanya seperti miskin. Tetapi ketika kampanye berlangsung betapa gebyar seakan-akan kekayaan partai tak akan habis dipakai pesta selama lima tahun penuh.
Ini salah siapa?
Ini dosa siapa?
Ini siapa yang harus menjawabnya?
Yang menjadi perhatian dari sisa kampanye adalah betapa miskinnya partai dan caleg yang mengikuti kampanye? Hal ini dapat dilihat dari laporan dana kampanye partai dan caleg yang dilansir oleh panitia pemilu, semuanya seperti miskin. Tetapi ketika kampanye berlangsung betapa gebyar seakan-akan kekayaan partai tak akan habis dipakai pesta selama lima tahun penuh.
Ini salah siapa?
Ini dosa siapa?
Ini siapa yang harus menjawabnya?
Jumat, 10 April 2009
Catatan, 10 April 2009
(mengenang Alvin)
Tiga jum’at kau berbaring
pulas bermahkotakan
kamboja tak berjawab
Ketika cintaku mulai menggila
akupun bertanya
masih teruskah cintaku,
Ketulusan cintamu
adalah luka kecil yang indah
Mengejar Sebuah Mimpi


Sehari setelah diadakan pemungutan suara di TPS, mulailah jatuh korban Pemilu. Caleg berasal dari daerah pemilihan Bali menghembuskan nafas terakhirnya atas nama Putu Lili Hayati dari Partai Hanura, setelah mendapati kenyataan bahwa suara yang mendukungnya hanya 12 suara di TPS terdekat. Sementara di Cirebon caleg lainnya atas nama Iwan Setiawan dari partai Patriot menjadi stress dan dibawa keluarganya ke pengobatan alternatif di Cirebon begitu mengetahui dirinya tidak mendapat dukung sebagai mana harapannya. Bahkan di Solo ada caleg yang membooking satu kamar di Rumah Sakit Jiwa sebelum penghitungan suara dimulai.
Rumah terjual, sawah terjual, mobil tergadai, hutang di bank menumpuk untuk mengejar sebuah mimpi menjadi anggota dewan terhormat, ini adalah sebuah tebusan yang amat mahal dan berada di angan-angan. Setelah tersadar bahwa tidak menjadi anggota dewan terhormat tersebut, haruskah diakhiri dengan masuk rumah sakit jiwa (bagi yang mampu lhooo), menjadi gila sepanjang jalan (menambah orang-orang gila yang berkeliaran), ataukah berakhir dengan kematian karena stress.
Entah apa yang akan terjadi pada caleg-caleg yang lainnya pada hari-hari berikutnya? Hanya Tuhan-lah yang Maha Mengetahui. Aku hanya berharap kita dapat berbuat yang terbaik yang kita miliki untuk sebuah kehidupan bangsa ini.
Rumah terjual, sawah terjual, mobil tergadai, hutang di bank menumpuk untuk mengejar sebuah mimpi menjadi anggota dewan terhormat, ini adalah sebuah tebusan yang amat mahal dan berada di angan-angan. Setelah tersadar bahwa tidak menjadi anggota dewan terhormat tersebut, haruskah diakhiri dengan masuk rumah sakit jiwa (bagi yang mampu lhooo), menjadi gila sepanjang jalan (menambah orang-orang gila yang berkeliaran), ataukah berakhir dengan kematian karena stress.
Entah apa yang akan terjadi pada caleg-caleg yang lainnya pada hari-hari berikutnya? Hanya Tuhan-lah yang Maha Mengetahui. Aku hanya berharap kita dapat berbuat yang terbaik yang kita miliki untuk sebuah kehidupan bangsa ini.
Rabu, 08 April 2009
Pemilu, Oh Aku Pilu

Ada perasaan pilu ketika tidak diberikan hak untuk menentukan nasib bangsa ini dalam Pemilihan Umum Legeslatif. Ini adalah warna lain dari coreng moreng dari seputaran Pemilu 9April 2009. Sungguh sangat menyakitkan tentang keberadaan diri ini yang tidak diakui oleh Negara.
Ataukah ini menunjukkan betapa bobroknya Negara dalam membuat data kependudukan. Seharusnya dalam hal yang demikian besar seperti Pemilu ini tidak terjadi lagi data yang tidak mutahir. Sungguh kesalahan yang sangat besar ketika seorang warga Negara tidak diberikan hak untuk menentukan siapa yang mewakilinya dalam lembaga legeslatif.
Sangat berbeda ketika seorang tidak mau menggunakan haknya untuk menentukan siapa yang mewakili dirinya dalam legeslatif. Mereka dengan secara sadar tidak mau menggunakan haknya dengan berbagai alasan. Alasan yang mereka sendirilah tahu.
Tidak ikut dalam kegiatan Pemilu karena “Kematian Data” harus segera dihentikan, karena bukan hanya menunjukkan betapa bobroknya Pemerintahan Kita, apa saja kerjaan aparat pemerintahan ini, untuk membuat data kependudukan saja sudah tidak becus. Bukankah setiap Kelurahan dan desa telah diberikan komputer untuk membuat, mengabdet data penduduk setiap saat. Yang sangat ditakuti adalah melegalisasi kematian data untuk warga negera tersebut.
Ataukah ini menunjukkan betapa bobroknya Negara dalam membuat data kependudukan. Seharusnya dalam hal yang demikian besar seperti Pemilu ini tidak terjadi lagi data yang tidak mutahir. Sungguh kesalahan yang sangat besar ketika seorang warga Negara tidak diberikan hak untuk menentukan siapa yang mewakilinya dalam lembaga legeslatif.
Sangat berbeda ketika seorang tidak mau menggunakan haknya untuk menentukan siapa yang mewakili dirinya dalam legeslatif. Mereka dengan secara sadar tidak mau menggunakan haknya dengan berbagai alasan. Alasan yang mereka sendirilah tahu.
Tidak ikut dalam kegiatan Pemilu karena “Kematian Data” harus segera dihentikan, karena bukan hanya menunjukkan betapa bobroknya Pemerintahan Kita, apa saja kerjaan aparat pemerintahan ini, untuk membuat data kependudukan saja sudah tidak becus. Bukankah setiap Kelurahan dan desa telah diberikan komputer untuk membuat, mengabdet data penduduk setiap saat. Yang sangat ditakuti adalah melegalisasi kematian data untuk warga negera tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)
