MAGRIB DI GIRI MUKTI 13 NOPEMBER 2008
Cukuplah
air segelas selepas magrib
untuk melenyapkan puluhan pohon
dan belasan burung-burung kecil lepas terbang
Ketika kegetiran ini tak bisa bicara
Adakah yang dapat mendengar dan teriakan
akan sesak yang tak terucap
akan tangisan yang terkafani
dan cinta yang tercabik selepas magrib.
Sabtu, 15 November 2008
MUSIBAH GIRI MUKTI - CIANJUR
Siang tadi aku dan anakku yang berusia 11 tahun, menunjukkan rasa duka dan simpati kepada keluarga yang sedang kena musibah tanah longsor di Giri Mukti Kec. Campaka Kabupaten Cianjur. Sampai di Irigasi, sang Bocah berceloteh “Pak, Dedek sakit hati dan marah ke bapak yang mengajak ke sini. Dedek harus becek-becek sementara beberapa meter dari sini Dedek lihat banyak orang yang memancing ikan santai-santai saja. Apa bapak tengah memperlihatkan ke Dedek sepertinya tidak ada apa-apa dengan saudara-saudara Dedek yang tengah sekarat, bahkan meninggal dunia karena tertimbun tanah longsor.” Aku pun tersentak dengan celoteh anakku, aku harus berfikir untuk menjawab ataupun untuk meluruskan celotehan tersebut. Setelah agak tenang aku pun mencoba untuk mengomentari terhadap celotehan tersebut, “Kenapa Dedek harus sakit hati ketika melihat orang lain lain masih bisa memancing ikan ketika tetangganya tengah dalam kesusahan, mereka mungkin sepanjang malam dan sepanjang pagi tadi telah membantu mereka di lokasi bencana. Sementara kita baru siang ini kesini. Dedek memangnya melihat ada orang yang tengah memancing ikan? Bapak hanyak melihat orang-orang yang tengah sibuk membantu saudara-saudara mereka yang kena musibah.” Dengan sewot sang Bocah meneruskan celotehannya, “Bapak hanya pura-pura tidak melihat mereka yang tengah mancing, Bapak munafik….” Akupun harus meluruskan apa yang dikatakan anakku, “Dek, jangan biarkan hati nurani Adek rusak karena hal-hal yang dilakukan orang lain. Suburkanlah hati Dedek untuk kemanusiaan, karena Adek adalah manusia yang punya perasaan. Kita harus belajar bersyukur karena kejadian itu tidak menimpa kita secara langsung tapi terjadi pada saudara kita, kita tidak serepot mereka yang kena bencana. Kita hanya melihat dan menunjukkan rasa duka kita dengan membantu mereka seadanya.” Kuteruskan kuliah ini “Hanya seadanya yang bisa kita berikan kepada mereka, karena kita sendiri memang tak pernah memiliki sesuatu yang layak diberikan kepada mereka, kecuali rasa duka ini.”
Anakku pun terus berjalan mengikuti orang-orang menapaki jalan yang licin untuk sampai di lokasi tanah longsor. Subhanallah, sungguh-sungguh sangat menyedihkan. Anakku masih sanggupkah dirimu mengatakan sakit hatimu, ketika melihat sedemikian besarnya bencana bagi saudara-saudara kita di tanah ini. Masih bisakah kita bersantai-santai ketika musibah itu datang dan menimpa saudara-saudara kita.
Semoga saja Allah yang Menguasai segala-gala dapat memberikan kepada kita hati yang tulus untuk membantu saudara-saudara yang tengah mendapatkan musibah dan bencana.
Semoga saja Allah SWT memberikan kekuatan yang luar biasa bagi saudara-saudaraku yang tengah mengalami musibah dan bencana. Hanya dengan kekuatan yang datangnya dari Allah-lah kita dapat melalui kegetiran ini dengan selalu bersyukur pada-Nya.
Anakku pun terus berjalan mengikuti orang-orang menapaki jalan yang licin untuk sampai di lokasi tanah longsor. Subhanallah, sungguh-sungguh sangat menyedihkan. Anakku masih sanggupkah dirimu mengatakan sakit hatimu, ketika melihat sedemikian besarnya bencana bagi saudara-saudara kita di tanah ini. Masih bisakah kita bersantai-santai ketika musibah itu datang dan menimpa saudara-saudara kita.
Semoga saja Allah yang Menguasai segala-gala dapat memberikan kepada kita hati yang tulus untuk membantu saudara-saudara yang tengah mendapatkan musibah dan bencana.
Semoga saja Allah SWT memberikan kekuatan yang luar biasa bagi saudara-saudaraku yang tengah mengalami musibah dan bencana. Hanya dengan kekuatan yang datangnya dari Allah-lah kita dapat melalui kegetiran ini dengan selalu bersyukur pada-Nya.
Jumat, 14 November 2008
DINI HARI MINGGU, 9 NOPEMBER 2008
DINI HARI MINGGU, 9 NOPEMBER 2008
Tiga burung hijau kecil membawa tiga jarum kecil
Mengepakkan sayap berkata
hari ini aku pinjam mereka sebagai saksi
pada saksi dihari nanti
Tiga jarum kecil di dada
Cckup sudah untuk menghentikan
derap amarah yang bergelora
membelah keangkuhan yang tersisa
Tiga jarum kecil
membangkitkan irama
ada takbir sebelum azan pagi
KEMATIANMU YANG KECIL
Pagi ini
Sebuah peluru yang menganga di dada
adalah tanda kematian kecilmu.
Adalah pesan bagi kami bahwa kematian besar ada
di depan yang mengerikan
menanti kami siang ini.
Cintaku
Masih tersisakah benih cintaku
Akan adanya belati-belati yang lebih
tajam dari peluru yang sempat menyobek bajumu
Cintaku
Aku inginkan
pena yang kumiliki
akan membalas sobekan di dadamu.
TALASEMIA
Tidur setelah sholat Subuh adalah kebiasaan baruku menjelang berangkat ke sekolah, tapi pagi itu aku tak begitu menikmatinya karena baru mau terlelap aku dibangunkan oleh Teh Kakak karena ada yang mencariku pagi ini.
Tamuku pada pagi ini adalah seorang bocah yang pucat dengan seorang bapak yang sepertinya tergesa-gesa ingin bertemu denganku. Tanpa banyak cerita sang bapak menyampaikan padaku bahwa anaknya sekarang hanya memiliki Hb-nya hanya 4 (seorang sehat Hb-nya adalah 12) aku tersentak artinya anak yang ada di depan mataku adalah anak yang tengah menanti sang malaikat pencabut nyawa.
Aku tak ikhlas melihat mata bocah seusia itu harus redup karena kekurangan Hb. Aku menjerit dan menangis di dalam hati sungguh sangat menyedihkan bahwa ada anak yang harus meninggalkan dunia ini karena kekurangan darah (akibat penyakit talasemia).
Anak ini harus segera ditransfusi darah, agar dapat ceria kembali. Aku tak dapat segera menolongnya, walaupun aku sangat ingin menolong bocah tersebut. Golongan darah anak tersebut adalah golongan B sementara aku memiliki golongan A seperti anak-anakku di rumah.
Aku tak sabar kenapa bapak sang bocah ini harus mencari jauh ke orang lain untuk mendapatkan darah dari orang lain, sementara paman dan wak dari bocah ini ada yang memiliki darah yang sama dengan bocah! Aku mendapatkan jawaban hanya takut pada jarum sehingga tak mau menyelamatkan sang bocah. Ini adalah keponakan sendiri, apalagi untuk orang lain.
Aku hanya bisa sarankan kepada sang bapak untuk mengasah goloknya supaya tajam, dan kasih kepada sang paman atau wak dari bocah untuk untuk menggorok leher sang bocah kalau harus takut dengan jarum dari pada sang bocah bermata indah tersebut menderita lebih jauh karena kekurangan darah.
Apalah artinya seorang keponakan dimata seorang paman yang tak mau menyelamatkan keponakannya. Dan bagaimana kalau penyakit tersebut terjadi pada orang lain. Jangankan mau menolong rasa-rasanya dia adalah orang yang pertama kali lari ketika dimintakan tolong. Sedemikian parahkah rasa kemanusiaan bangsa ini?
Sempatkah aku mencium dirimu anakku. Selamat jalan anakku. Maafkan anakku aku tak bisa menolongmu....!
Akankah Cianjur selalu dan selalu kekurangan darah dari waktu ke waktu. Masih kurangkah orang-orang yang tak terselamatkan karena kekurangan darah. Ataukah menunggu saudara-saudaramu atau dirimu sendiri yang menjadi korban baru akan bersaksi.
Aku menunggu jawabanmu.......!
DONOR DARAH SMAN 1 CIBEBER

DONOR DARAH
Darah dari waktu ke waktu selalu saja kekurangan. Artinya kebutuhan darah terlalu banyak sementara mereka yang menyumbangkan darahnya masih terlalu sedikit. Ataukah ini pertanda bahwa rasa kemanusiaan kita telah tipis terkikis oleh kehidupan yang keras ini.
Kalau saja kita sempat membaca dan menikmati keindahan dari ayat 32 pada surat Al-Maidah, yang artinya : ”....barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya”. Bukankah ini kesempatan bagi seorang manusia untuk melaksanakan ayat ini. Dengan kekurangan darah seorang manusia akan segera meninggalkan dunia ini, dengan darah yang kita miliki untuk disumbangkan(menyumbang tapi tak pernah berkurang), sesorang dapat terselamatkan. Subhanallah, sungguh banyak jalan kebajikan dapat kita lakukan sebagai amal kebaikan dan ladang pengabdian diri pada-Nya.
Kalau saja kita ditakdirkan oleh Allah SWT harta yang melimpah, ketika kita sumbangkan kepada orang lain yang tidak mampu, tentunya orang tersebut dapat dan sempat mengucapkan terima kasih kepada kita. Kita dikatakan pahlawan dan penyelamat dirinya.
Ketika kita ditakdirkan oleh Allah SWT darah yang sehat, kita sumbangkan kepada orang-orang yang tengah membutuhkannya, sempatkah dan dapatkah mereka yang membutuhkan darah tersebut berterima kasih kepada kita? Hanya kepada Allah-lah dia berterima kasih. Sementara kita dapat beramal darah yang sehat kepada orang lain. Kita pun tak pernah kekurangan darah karena darah yang keluar dari dalam tubuh kita akan segera berproses untuk membentuk darah yang baru.
Subhallah. Kita terhindar dari sifat riya’, karena kita tak pernah tahu pada siapa darah kita mengalir.
Kalau saja kita sempat membaca dan menikmati keindahan dari ayat 32 pada surat Al-Maidah, yang artinya : ”....barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya”. Bukankah ini kesempatan bagi seorang manusia untuk melaksanakan ayat ini. Dengan kekurangan darah seorang manusia akan segera meninggalkan dunia ini, dengan darah yang kita miliki untuk disumbangkan(menyumbang tapi tak pernah berkurang), sesorang dapat terselamatkan. Subhanallah, sungguh banyak jalan kebajikan dapat kita lakukan sebagai amal kebaikan dan ladang pengabdian diri pada-Nya.
Kalau saja kita ditakdirkan oleh Allah SWT harta yang melimpah, ketika kita sumbangkan kepada orang lain yang tidak mampu, tentunya orang tersebut dapat dan sempat mengucapkan terima kasih kepada kita. Kita dikatakan pahlawan dan penyelamat dirinya.
Ketika kita ditakdirkan oleh Allah SWT darah yang sehat, kita sumbangkan kepada orang-orang yang tengah membutuhkannya, sempatkah dan dapatkah mereka yang membutuhkan darah tersebut berterima kasih kepada kita? Hanya kepada Allah-lah dia berterima kasih. Sementara kita dapat beramal darah yang sehat kepada orang lain. Kita pun tak pernah kekurangan darah karena darah yang keluar dari dalam tubuh kita akan segera berproses untuk membentuk darah yang baru.
Subhallah. Kita terhindar dari sifat riya’, karena kita tak pernah tahu pada siapa darah kita mengalir.
DONOR DARAH SMAN 1 CIBEBER
MASIH PERLUKAH DIADAKAN DONOR DARAH???
Ini adalah protes kecil yang disampaikan seorang rekan ketika melihat ada siswa yang pingsan setelah mengadakan aksi kemanusiaan di SMA Negeri 1 Cibeber, ketika memperingati hari Pahlawan 10 Nopember 2008.
Ketika pertanyaan itu sampai ke telinga Kepala Sekolah (Bpk. Drs. H.M. Danur Jamhur) seketika memanggil saya sebagai Pembina untuk dimintai keterangannya. Cukup membuat aku tersentak ketika beliau dengan wajah yang bergetar menceritakan” Sudah cukup bapak saja yang mengalami kepahitan, ketika anak bapak yang kedua (permata beliau) harus meninggal dunia karena betapa sulitnya mendapatkan darah. Bapak tidak ingin ada anak-anak lain yang mengalami kekurangan darah. Setiap UTD (Unit Tranfusi Darah) di seluruh Indonesia harus selalu tersedia darah sehingga setiap keperluan masyarakat akan darah selalu tersedia. Selama bapak menjadi pemimpin, bapak akan selalu dan selalu mendukung penuh untuk kegiatan kemanusiaan ini”.
Lebih menyentak lagi ketika beliau menyatakan ” Kalau kegiatan donor darah harus dihentikan dari sekolah ini, maka Pembinanya pertama-tama harus berhenti saja jadi manusia”. Lalu beliau melanjutkan kuliahnya, ”Siswa yang pingsan akan menjadi tanggungan sekolah. Siswa yang pingsan bukan disebabkan donor darah, tapi disebabkan oleh metabolisme dalam tubuhnya saja yang belum siap untuk menghadapi perubahan setelah donor darah, atau ada hal-hal lain!”.
” Pembinanya pertama-tama harus berhenti saja jadi manusia ” ini adalah kata-kata yang sangat indah dan sangat menggigit serta perlu dipikirkan bagi orang-orang yang tidak mau donor darah, atau orang-orang yang menentang kegiatan donor darah ini.
Masih perlukan ada pertanyaan apakah kegiatan donor darah ini harus dihentikan?
Ini adalah protes kecil yang disampaikan seorang rekan ketika melihat ada siswa yang pingsan setelah mengadakan aksi kemanusiaan di SMA Negeri 1 Cibeber, ketika memperingati hari Pahlawan 10 Nopember 2008.
Ketika pertanyaan itu sampai ke telinga Kepala Sekolah (Bpk. Drs. H.M. Danur Jamhur) seketika memanggil saya sebagai Pembina untuk dimintai keterangannya. Cukup membuat aku tersentak ketika beliau dengan wajah yang bergetar menceritakan” Sudah cukup bapak saja yang mengalami kepahitan, ketika anak bapak yang kedua (permata beliau) harus meninggal dunia karena betapa sulitnya mendapatkan darah. Bapak tidak ingin ada anak-anak lain yang mengalami kekurangan darah. Setiap UTD (Unit Tranfusi Darah) di seluruh Indonesia harus selalu tersedia darah sehingga setiap keperluan masyarakat akan darah selalu tersedia. Selama bapak menjadi pemimpin, bapak akan selalu dan selalu mendukung penuh untuk kegiatan kemanusiaan ini”.
Lebih menyentak lagi ketika beliau menyatakan ” Kalau kegiatan donor darah harus dihentikan dari sekolah ini, maka Pembinanya pertama-tama harus berhenti saja jadi manusia”. Lalu beliau melanjutkan kuliahnya, ”Siswa yang pingsan akan menjadi tanggungan sekolah. Siswa yang pingsan bukan disebabkan donor darah, tapi disebabkan oleh metabolisme dalam tubuhnya saja yang belum siap untuk menghadapi perubahan setelah donor darah, atau ada hal-hal lain!”.
” Pembinanya pertama-tama harus berhenti saja jadi manusia ” ini adalah kata-kata yang sangat indah dan sangat menggigit serta perlu dipikirkan bagi orang-orang yang tidak mau donor darah, atau orang-orang yang menentang kegiatan donor darah ini.
Masih perlukan ada pertanyaan apakah kegiatan donor darah ini harus dihentikan?
Langganan:
Postingan (Atom)









